MY FORUM

Kenapa Malaysia Bisa Maju?

Akhir Agustus kemarin, Malaysia yang akhir-akhir ini sering dihujat oleh bangsa kita, merayakan kemerdekaannya yang ke - 53. Usianya lebih muda ketimbang usia kemerdekaan Indonesia yang sudah 65 tahun. Namun di usia yang relatif muda tersebut, Malaysia sudah banyak mencapai kemajuan di banding negeri tercinta ini, baik dari segi perekonomian, pembangunan, pengentasan kemiskinan, hingga penyediaan lapangan kerja. Bagaimana dengan negeri kita, Indonesia? Sudahkah mencapai hal yang sama seperti yang sudah dicapai oleh Negeri Melayu itu? Jawabnya pasti tidak, negeri kita sudah tertinggal jauh dibanding negeri-negeri ASEAN lainnya, terutama Malaysia. Kenapa Malaysia lebih maju ketimbang Indonesia?


Malaysia menargetkan menjadi negara maju tahun 2020 lewat program pembangunan yang disebut Wawasan 2020. Wawasan 2020 atau Visi 2020 ini adalah visi Malaysia yang diperkenalkan oleh mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Bin Mohamad tahun 1991. Visi ini berisi bahwa negara Malaysia akan menjadi negara maju pada tahun 2020. Bukan hanya maju dalam bidang ekonomi, tetapi juga bidang-bidang politik, sosial, kerohanian, psikologi, serta juga persatuan nasional dan sosial. Semua ini juga melibatkan persoalan keadilan sosial, kestabilan politik, sistem pemerintahan, kualitas hidup, nilai sosial dan kerohanian dan juga keyakinan.

Wawasan 2020 sudah dilalui selama 19 tahun dengan hasil yang bisa dikatakan cukup menakjubkan. Di paruh waktu ini, Malaysia menjadi salah satu negara perdagangan utama dunia dan berada di peringkat ke-21 dunia sebagai negara pengekspor di tahun 2010. Bahkan, berdasarkan laporan Deutsche Bank mengenai potensi pertumbuhan 34 negara yang maju dan sedang membangun, Malaysia dinyatakan sebagai negara kedua terpantas membangun setelah India, dan mengatasi Cina dalam kurun tahun 2006 hingga 2020 nanti.

Tidak itu saja, berdasarkan laporan AT Kearney, Malaysia berada di antara 15 negara utama untuk tujuan investasi, dan berada pada tangga ketiga dunia sebagai lokasi “outsourcing”. Bahkan Laporan AT Kearney bersama majalah Foreign Policy mendudukkan Malaysia sebagai satu-satunya negara dari Benua Asia yang termasuk dalam 20 negara yang paling global. Tak hanya itu, situs bisnis Forbes pada 19 Juli 2010 kemarin, mendudukkan Malaysia di urutan ke-4 di antara 13 negara di Asia yang memiliki potensi dan peringkat bisnis tertinggi.

Penilaian terhadap ke-13 negara tersebut berdasarkan peringkat yang dimiliki oleh World Economic Forum, Fraser Institute, World Bank dan Milken Institute. Dalam hal ini, penilaian dari World Economic Forum didasarkan pada penghitungan peringkat daya saing ke-13 negara tersebut, Fraser Institute menyatakan tingkat kebebasan dalam melakukan bisnis, Milken Institute ialah indeks akses para pemodal dan World Bank menyatakan keamanan dalam melakukan suatu bisnis.

Menurut Forbes tersebut, Kuala Lumpur, sebagai ibukota negara Malaysia yang merupakan tujuan bisnis dan pariwisata, negara itu mampu membuktikan tingginya tingkat pemasukan investasi luar negeri (FDI) sebesar 18,4%. Bahkan tingkat daya saing bisnis yang dimiliki, Malaysia lebih unggul dibandingkan dengan Shanghai. Bagaimana dengan Indonesia? Negara kita ini tidak masuk dalam 13 negara yang berhasil di survey oleh Forbes.

Kemajuan Malaysia tak terlepas dari program atau langkah yang diambil pada masa kekuasaan Abdullah Ahmad Badawi. Beberapa langkah tindakan yang dilakukan Ahmad Badawi tersebut ditujukan untuk menyelamatkan perekonomian bangsa, agar tidak terpuruk di tengah persaingan perdagangan antarbangsa dan harga minyak yang makin menggila waktu itu, sehingga sangat mempengaruhi perekonomian negara.

Langkah-langkah itu meliputi ;

Pertama, melakukan penghematan dan memperketat pengeluaran negara. Segala pengeluaran atau pembelanjaan negara harus dipantau dengan saksama agar negara tidak menghadapi defisit yang sangat besar, dan tidak menimbulkan beban bagi negara sebagai akibat dari besarnya belanja ketimbang devisa yang diterima. Untuk itu negara juga harus memikirkan tabungan bagi hari depan.

Kedua, membina ekonomi berasaskan pengetahuan. Hal ini diwujudkan dengan cara memberi perhatian berat terhadap usaha-usaha yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan inovasi, serta memberi fokus kepada bidang-bidang yang mempunyai daya saing yang lebih kuat. Oleh karena itu, sumber daya manusia adalah elemen terpenting dalam ekonomi negara dan harus ditingkatkan nilainya, serta dibinaupaya. Untuk itu, program-program penelitian dan pembangunan, penguasaan sains dan teknologi, penguasaan ilmu pengetahuan dan kemahiran, harus lebih digalakkan di kalangan warga masyarakat, agar warga mampu menghasilkan ciptaan baru, produk baru, pendapatan baru, dan kekayaan baru.

Ketiga, memperkokoh asas dan fundamental ekonomi negara, serta menciptakan bidang-bidang pertumbuhan baru. Staretegi ini dapat dicapai melalui bioteknologi dan pertanian modern, karena sektor pertanian sangat dimungkinkan untuk mencapai hal itu. Selain sektor tersebut, bidang-bidang lain seperti pariwisata, pendidikan, kesehatan, keuangan Islam, dan pemasaran makanan halal merupakan potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal ini sudah dibuktikan dengan pertumbuhan dunia pariwisata Malaysia yang begitu mengesankan. Bahkan banyak orang-orang kita yang melancong, berobat, dan bersekolah di negeri jiran itu.

Keempat, memperbaiki sistem informasi dan menghapus sistem birokrasi yang rumit terutama dalam bidang investasi agar menjadi lebih baik dan cepat. Hal ini sangat berkaitan erat dengan good governance dan good government. Sistem birokrasi cenderung menyulitkan investor bahkan mendorong munculnya tindakan suap yang menyebabkan tingginya biaya investasi. Penghapusan dan pembasmian suap di berbagai sektor, baik sektor umum, pemerintahan, dan sektor swasta sangat mutlak diperlukan.

Kelima, meningkatkan kualitas hidup rakyat melalui perbaikan sarana dan prasarana rakyat seperti perumahan, kesehatan, komunikasi dan informasi, pendidikan, kelistrikan, dan penyediaan air bersih, terutama di kawasan-kawasan yang masih tertinggal.

Keenam, menghilangkan kesenjangan sosial melalui pemerataan pembangunan antara daerah atau wilayah, perkotaan dan pedesaan, serta peningkatan pendapatan golongan miskin melalui peningkatan modal usaha dan budaya seperti keterampilan. Ketujuh, menciptakan stabilitas nasional yang mantap. Strategi ini dapat diwujudkan dengan cara membina kemanan, kestabilan, dan kemakmuran serta persatuan dan kesatuan bangsa. Kestabilan ini juga dapat dicapai dengan melakukan rancangan program ekonomi dan program sosial yang memuat sikap adil bagi setiap warga yang berbeda suku bangsa. Di samping itu, iklim investasi harus mampu memberi keyakinan kepada para investor bahwa negara (Malaysia) merupakan tujuan investasi yang tepat.

Selain langkah-langkah di atas, Badawi juga punya strategi keislaman dan Agenda Melayu. Untuk strategi keislaman, Badawi mempunyai tiga misi yang ingin dilaksanakan. Pertama, secara tegas ia akan mendesak masyarakat dunia, terutama negara-negara besar atau adidaya untuk memahami isu-isu yang menjadi pencetus aksi-aksi terorisme. Kedua, sebagai ketua OIC (Organisation of the Islamic Conference) waktu itu, beliau bertanggungjawab untuk menerangkan kepada masyarakat dunia, bahwa Islam adalah agama perdamaian yang menentang semua aksi kekerasan dan terorisme. Ketiga, sebagai Perdana Menteri Malaysia, beliau juga bertanggungjawab untuk memaparkan kepada dunia bahwa Malaysia adalah sebuah negara Islam yang moden, dinamik, bertanggungjawab, dan dipercayai bila menjadi rekan perdagangan, serta sebagai tempat yang aman untuk berinvestasi dan berwisata.

Bagaimana dengan Agenda Melayu? Agenda Melayu pada dasarnya merupakan program untuk memajukan suku bangsa melayu agar setara dengan suku-suku bangsa lainnya terutama dalam bidang perekonomian. Agenda ini tercetus karena adanya kekhawatiran dari Orang Melayu atas ketertinggalan mereka dalam kedudukan sosial dan pencapaian ekonomi (pendapatan) ketimbang suku-suku bangsa lain di negeri itu. Hal ini didasarkan bahwa pada tahun enam puluhan, jurang pendapatan antara Melayu dan bukan Melayu amat luas. Pendapatan orang Melayu kurang dari separuh pendapatan bukan Melayu. Jurang ekonomi ini telah menimbulkan keresahan di kalangan orang Melayu.

Setelah terjadinya Peristiwa 13 Mei 1969, peristiwa berdarah yang telah mencatatkan satu titik hitam, yang pasti tidak dilupakan oleh setiap rakyat Malaysia. Pertumpahan darah dan kacau balau yang terjadi pada 13 Mei hampir menghancurkan negeri tersebut. Peristiwa ini merupakan krisis perkauman/kerusuhan etnis yang terbesar di negara ini yang melibatkan tiga suku bangsa utama yaitu Melayu, Cina, dan India. Pihak Kerajaan sadar kalau program (agenda) itu penting untuk dilaksanakan, karena dapat menyeimbangkan kedudukan sosial dan kedudukan ekonomi berbagai suku bangsa di negara itu.

Untuk itu, orang Melayu diberi peluang untuk meningkatkan diri dan menikmati hasil kemakmuran ekonomi negara secara bersama-sama. Dasar Ekonomi Baru (DEB) ini lalu diperkenalkan sebagai formula untuk menangani jurang ketidakseimbangan pencapaian ekonomi antara rakyat berbagai sukubangsa. DEB ini telah berhasil menaikkan taraf hidup dan pendapatan orang Melayu. Pada permulaan DEB, orang Melayu hanya berpendapatan 44 sen bagi setiap satu Ringgit pendapatan kaum bukan Melayu. Setelah berakhirnya DEB pada tahun 1990, orang Melayu mampu merapatkan jurang pendapatan hingga 57 sen bagi setiap satu Ringgit-nya, jadi tumbuh sebesar 30%.

Namun Agenda Melayu ini tidak ditujukan untuk menjadikan suku bangsa Melayu menjadi bangsa yang etnosentris, ia hanya ditujukan untuk menyetarakan dirinya dengan suku bangsa lain yang telah maju dalam bidang sosial dan ekonomi. Agenda ini juga tetap berpegangan pada prestasi yang sudah dicapai oleh tiap warga. Jadi, setiap warga - baik Melayu ataupun non-Melayu - yang berprestasi tetap akan diberikan kesempatan yang sebesar-besarnya.

Malaysia kini merupakan Malaysia di era ekonomi yang berasaskan pengetahuan, peluang orang-orang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, giat bekerja, dan semangat berjuang tetap diprioritaskan. Sumber daya manusia merupakan aset negara yang paling penting. Modal ini adalah penentu dari survive-nya suatu negara. Hal ini sangat disadari oleh Malaysia saat ini. Modal insan atau sumber daya manusia merupakan aset yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya, nilai inteleknya, dan dapat diperkaya modal budayanya. Pengembangan sumber daya manusia adalah penentu untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas suatu negara.

Oleh karena itu, pihak kerajaan (pemerintah) banyak membangun sarana maupun fasilitas pendidikan, memudahkan biaya pendidikan dengan berbagai subsidi, agar mereka mampu menguasai sains – menguasai teknologi, sehingga sumber daya profesional akan terus terjamin. Bayangkan saja, untuk tahun 2003 saja, Kementerian Keuangan Malaysia mengeluarkan dana sebanyak 26 billion ringgit untuk usaha pembinaan (pendidikan) dan pelatihan kerja. Mereka menganggap bahwa setiap ringgit yang dihamburkan harus membawa hasil yang maksimum, bukan suatu kemubaziran. Strategi inilah yang menjadi momentum Malaysia kini untuk mewujudkan Wawasan 2020 kelak. Bagaimana dengan kita?

Langkah kita tak sampai sejauh itu, wakil rakyat sibuk dengan gedung barunya, dan pemerintah masih berkutat dengan masalah yang itu-itu terus. Wajar kalau Malaysia anggap remeh pada kita, karena mereka telah membuktikan kejayaan dan kemajuan mereka.

--
Tetap update informasi di manapun dengan http://mippin.com/mobile-bambangsy dari browser ponsel anda !


Bookmark and Share

Tulisan Yang Terkait

post signature


Comments :

0 Tanggapan to “Kenapa Malaysia Bisa Maju?”

Post a Comment

 

My Twitter Updates

Twitter Updates


    follow me on Twitter

    Site Info

          Add to Technorati Favorites   blog-indonesia.com

    Jadwal Shalat


    G
    U
    E
    S
    T

    B
    O
    O
    K

    Hubungi Saya Disini !