MY FORUM

Film Kosong Ala Indonesia

Menurutmu, mau jadi apa bangsa Indonesia?

Menurut saya yang senang mengamati media, bangsa yang berbudaya dapat dilihat dari apa yang ditampilkan media-medianya. Media menampilkan budaya yang -dipandang atau dijadikan- dominan, sekalipun tidak serta merta menjadi representasi dari seluruh budaya yang ada. Dan salah satunya adalah film.


Memang menarik bahwa tahun-tahun belakangan ini, mungkin selepas booming-nya AADC, begitu banyak film-film Indonesia bermunculan dan menghiasi bioskop-bioskop Indonesia. Ceritanya pun beragam. Dari mulai yang digarap serius seperti Ca Bau Kan, hingga yang sangat ringan seperti Cinta Lokasi. Dan selalu, kontroversi mengikuti perjalanan film-film tanah air.

Sempat di saat masa jaya da’i kondang Aagym, film ‘Buruan Cium Gue’ dipaksa mengganti judul. Akan tetapi ironisnya, film-film setelahnya yang lebih vulgar justru bisa dengan mudah nangkring di bioskop-bioskop di kota-kota besar. Sebut saja ‘Quickie Express’ yang dari judulnya saja sebenarnya sudah merepresentasikan filmnya. Tidak ada isu yang mencuat seputar ‘Quickie Express’, entah itu fatwa haram atau apapun. Semua seperti tertawa bersama Aming,Tora, dan Lukman Sardi. Padahal menurut saya pribadi, film itu menyajikan sesuatu yang ‘dong’: kosong.

Film Kawin Kontrak tidak kalah ’serunya’, bahkan sampai dibuat sekuelnya segala. Dan film-film bergenre horror dengan daya pikat yang menurut saya masuk kategori ’pornografi’, seperti Air Terjun Pengantin, atau film-film yang dibintangi Jupe atau Dewi Persik. Boleh tidak suka dengan pendapat saya tentang kategori ‘pornografi’. Tapi kalau mau jujur dengan hati sendiri, tentulah miris melihat penonton film-film tersebut bukanlah penonton ‘dewasa’ seperti rekomendasi Lembaga Sensor Film. Sebagian penontonnya berseragam sekolah menengah, bahkan pernah saya lihat berseragam biru tua (baca: SMP). Dan herannya, petugas bioskop mengizinkan remaja-remaja ini masuk ke dalam.

Pengalaman saya sewaktu sekolah di Australia, pernah ada suatu kejadian di kios penjualan majalah, teman saya yang juga berasal dari Asia yang sudah dewasa Kebetulan ia ingin membeli ‘Penthouse’, salah satu majalah porno yang terbit di sana. Melihat tubuhnya yang pendek dan wajahnya yang imut, petugas toko menolak teman saya tersebut untuk membeli ’Penthouse’ karena mengira ia masih di bawah umur. Memang, terlalu naif untuk membuat kesimpulan hanya dengan satu contoh kasus saja. Namun demikian, kita bisa menarik hikmahnya. Di Australia saja, bisa dan terjadi kok, pelanggan ditolak karena dianggap masih berusia di bawah umur. Seharusnya Indonesia yang katanya ketat dengan nilai-nilai ketimuran bisa lebih dari itu. Apalagi ini jelas-jelas berseragam.

Masih ingatkah bahwa film-film semacam ini dulu tempatnya adalah di bioskop nomor dua. Tapi sekarang, bahkan XXI pun memutar film-film seperti ini, yang artinya adalah masyarakat kelas menengah pun menikmati film-film yang ‘kosong’ dan hanya menjual sensualitas semata.

Perhatian saya dalam masalah ini adalah generasi muda yang belum stabil dari sisi emosi dan dari sisi seksualitas. Kalaupun film-film semacam itu harus ada, baiknya petugas bioskop pun punya kode etik dengan tidak membolehkan remaja berseragam sekolah menonton film-film tersebut. Memang saat ini remaja bisa mengaksesnya dari mana saja, dimana saja dan kapan saja. Tapi apa yang salah dengan berusaha mengurangi, atau sekedar menempatkan sesuatu pada tempat yang seharusnya?

Indonesia…Indonesia… Masyarakatnya mencintai film yang ‘kosong’, membenarkannya, dan mempertahankannya pula…

Mungkin hanya pandangan saya, remaja tua, yang sudah ketinggalan beberapa episode bergulirnya jaman. Tapi entah mengapa, saya masih merasa perlu menuliskannya. Paling tidak meramaikannya dari sudut pandang berbeda.

--
Tetap update informasi di manapun dengan http://mippin.com/mobile-bambangsy dari browser ponsel anda !

Lanjut membaca “Film Kosong Ala Indonesia”  »»

Arti Dari Kehidupan !

Kehidupan mempunyai banyak dimensi, banyak lapis dan fase. Di satu sisi, semuanya dapat berpadu bersama dalam meneruskan interaksi dinamis satu sama lainnya. Kehidupan adalah suatu perpaduan (integrasi) dari kesemuanya. Akan tampak bodoh bila kemudian ada usaha memisah-misahkan dan menganalisis kehidupan sebagaimana para ilmuwan sering melihat sesuatu hanya dalam satu bidang (sudut pandang) mikroskopik, melihat sesuatu hanya dalam satu dimensi saja, yang akan membuat pandangan menjadi timpang dan tidak seimbang. Atau melihat dengan sudut pandang teleskopik, yang juga akan membawa pada generalisasi yang terlalu umum sehingga justru terjadi reduksionisme yang simplistik. Hidup dengan menggunakan visi teropong maupun mikroskop, beresiko membawa sudut pandangnya menjadi sempit dan tidak seimbang, karena hanya mementingkan satu aspek kehidupan dan kemudian mengabaikan aspek-aspek lainnya. Akibat dari ketidakproporsionalan cara pandang dan ketidakseimbangan ini jelas amat berbahaya: yaitu terbelahnya pribadi dan masyarakat, sebagaimana orang yang hidup dalam satu dimensi saja, atau seraya mengabaikan keutuhan kehidupan.


Sebagai contoh sederhana, misalnya seorang dokter yang hanya melihat dan mengobati penyakit dari gejala fisik tapi sama sekali mengabaikan faktor psikologis pasien. Atau seorang yang semata-mata melihat kepadatan penduduk hanya sebagai angka statistik dan mengabaikan psikologi masyarakat, sehingga diciptakannyalah transmigrasi sekelompok masyarakat berkepribadian keras, dipaksakan untuk hidup dalam wilayah masyarakat yang menjunjung tinggi kesopanan dan tatakrama. Pada ujungnya, dua kelompok masyarakat tadi justru saling membunuh satu sama lain. Di sepanjang zaman, manusia terlihat terbelenggu dalam kebodohan semacam ini, hanya saja dalam skala yang berbeda-beda.

Ada satu hal lain dalam dimensi kehidupan kita ketika seorang manusia tengah mencari apa yang disebut dengan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan, ternyata tidak dapat dijamin oleh limpahan harta duniawi ataupun kedudukan di mata manusia. Kebahagiaan yang sangat tidak dapat diukur oleh banyaknya rasa senang. Kebahagiaan sejati yang sebenarnya, bukanlah manusia yang dapat menciptakannya. Kebahagiaan sejati akan dapat dirasakan ketika Dzat Yang Maha Kuasa pencipta takdir, pencipta kehidupan turun menganugerahkan kepada kita, yang kadangkala –kalau tidak disebut seringkali— hadir tidak lewat keadaan yang kasat mata, namun akan terasakan di dalam diri kita, di dalam batin manusia. Untuk itulah, ketika manusia menyadari ada rasa yang lain dalam dirinya, semestinya dia menyadari bahwa ada dimensi lain dalam dirinya yang disebut sebagai dimensi batiniah seorang manusia, yang tidak seorang pun dapat menyangkalnya. Sebuah dimensi yang seringkali akal manusia tidak mampu mencernanya dengan sempurna, sehingga melahirkan bentuk interpretasi yang beragam pula. Masing-masing menafsirkan sesuai dengan apa yang ada dalam benak mereka.

Maka tidaklah mengherankan apabila Allah sering mengungkapkan sindiran kepada manusia yang tidak mengakui adanya aspek batin dalam diri, yaitu apa yang disebut dengan qalbu nurani, yang letaknya pun bukanlah seperti apa yang digambarkan para ahli kedokteran berupa jantung, tapi berada dalam dimensi yang berbeda. Qalbu yang di dalamnya terletak aspek keimanan. Firmannya, “Berkata seorang Arab badui ,‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah kamu telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam qalbu-mu.” (QS Al-Hujurat [49] : 14) Qalbu juga yang menjadi tempat ujian dimana syetan yang terkutuk akan berjuang menggelincirkan dan menyesatkan manusia ke jalan kemurkaan Allah. Firmannya, “….Bahkan qalbu mereka telah menjadi keras dan syetan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Al-An’aam [6] : 43) “Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada qalbu mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah.” (QS at-Taubah [9] : 77) Berdasarkan beberapa ayat di atas, dapat ditarik pelajarannya bahwa, apabila kita ingin agar Alquran mampu menyentuh qalbu manusia dengan sentuhan yang benar, dimana qalbu bisa memperoleh manfaat dari Alquran, maka kita wajib mengobatinya terlebih dahulu, dengan cara menjadikan qalbu itu beriman dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu –bertolak dari uraian di atas— titik perhatian yang seharusnya selalu menjadi pusat pemikiran dan kerja pendidik sejak awal adalah perbaikan qalbu (ishlah al-qalb). Kegagalan dalam hal ini merupakan indikator dari adanya gejala pembodohan pendidikan, ketidaktekunan murid, atau kesalahan sistemnya. Untuk itulah Rasulullah selalu memberikan nasihat kepada para umatnya agar selalu berhati-hati dalam menggunakan qalbu-nya.

Demikian pula ketika kita mencoba mengkaji bentuk ibadah yang telah Nabi ajarkan bagi umatnya, ibadah yang memegang peranan yang sangat penting, khususnya sangat berpengaruh benar dalam upaya menumbuhkan keimanan dan ketakwaan seorang umat Muhammad Saw., yaitu ibadah shalat. Ketika kita hanya mengkaji ibadah ini dari aspek aturan fikih belaka, atau aturan lahiriahnya, maka tidak heran apabila kita menemukan umat Islam merasa sangat berat, apalagi ibadah ini harus dilakukannya sepanjang hidupnya sehari lima kali. Pada era modern ini, kita bahkan banyak menemukan umat sudah tidak lagi merasa bergairah menjalankan ibadah shalat, kalau tidak ingin disebut jarang melengkapi lima waktu tersebut. Mereka yang cukup rajin pun sudah sering merasa kekeringan dalam pelaksanaan shalat tersebut. Ini disebabkan karena dimensi batinnya telah lama tidak mereka rasakan. Shalat tidak lagi dijadikan sebagai sarana indikator kedekatan mereka dengan Allah. Shalat tidak lagi dikejar karena mereka merasakan tidak banyaknya manfaat yang bisa diperoleh ketika shalat, selain dari sekedar melaksanakan kewajiban saja. Tapi akan dirasakan berbeda apabila setiap Muslim mencari manfaat apa sebenarnya yang dapat diperoleh ketika mereka menjalankan shalat? Mengapa Allah menurunkan bentuk kewajiban shalat tersebut kepada umat Islam? Apakah shalat itu merupakan kewajiban bagi manusia agar dapat menyembah Tuhannya belaka, tanpa ada faidah bagi penyembahnya itu sendiri? Apabila pertanyaan demi pertanyaan tersebut dapat terjawab, maka umat Islam tentunya akan dapat memaknai setiap gerak hidupnya dengan benar.

Mari kita perhatikan beberapa ungkapan Nabi selaku pembawa risalah kebenaran ini. Rasulullah bersabda, “Apabila shalat seseorang tidak mencegahnya dari berbuat keji dan munkar, maka ia tidak mendapat apa pun kecuali semakin bertambah jauh darinya.” Nabi juga bersabda, “Banyak orang yang melaksanakan shalat, tetapi yang diperolehnya tiada lain hanyalah letih dan payah, karena melaksanakan shalat itu sendiri.” (H.R. An-Nasa’i). “Tiada diperoleh seorang hamba dari shalatnya kecuali apa ada dalam pikirannya pada saat melaksanakan shalat.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i). Alangkah beruntungnya ketika seorang hamba memahami makna shalat sebenarnya sebagaimana Rasulullah ungkapkan, “Ketika ia melaksanakan shalat, seorang hamba tengah bercakap mesra dan akrab dengan Tuhannya.” (HR Bukhari Muslim). Inilah makna sebenarnya ibadah shalat, ibadah yang mengandung sebuah hubungan batin seorang hamba dengan Sang Pencipta, ibadah yang bernuansa sakral karena keyakinan manusia yang berada dalam dimensi batiniyah dalam mengadakan hubungan khusus dengan zat yang ghaib. Inilah makna ihsan. Allah mewajibkan shalat kepada setiap umat Muhammad, karena dalam ibadah itu terkandung sebuah makna pengabdian yang tinggi seorang hamba kepada Penciptanya. Dalam ibadah shalat juga, seandainya dilakukan secara ikhlas, tidak karena semata-mata menjalankan beban kewajiban, akan diperoleh limpahan cahaya petunjuk dari Allah yang berfungsi menjernihkan hati nurani atau qalbu setiap hamba Allah yang beribadah secara ikhlas tersebut. Setiap rakaat shalat memiliki makna yang sangat mendalam karena hadirnya proses pensucian jiwa yang tadinya terkotori oleh tindakan dosa kita. Untuk itulah kering atau gersang tidaknya ibadah shalat kita bergantung dari seberapa besar motivasi kita dalam melaksakan ibadah tersebut. Sedangkan seringkali, untuk mendapatkan motivasi, kita membutuhkan ‘bahan bakar’ berupa pemahaman maupun keluasan cakrawala pandang untuk lebih memahami persoalan.

Dalam sisi dimensi batin lainnya, gerakan shalat memiliki makna simbolik yang sangat mendalam. Sejak posisi berdiri, ruku dan sujud merupakan sebuah proses perjalanan manusia dalam rangka mencari kebenaran, mencari pemilik kebenaran, proses pendakian menuju kasih sayang dan kedekatan Allah Azza wa Jalla. Simbol tersebut merupakan langkah yang harus kita tempuh dalam rangka upaya manusia agar dapat menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok akan lebih baik dari hari ini. Posisi berdiri melambangkan posisi akal atau rasio berada di atas qalbu manusia, artinya pada awal kehidupan, kita menempatkan akal kita terlebih dahulu sebelum menggunakan qalbu, atau bahkan tidak menggunakan qalbunya. Kondisi ini pula yang dialami oleh sebagian besar umat Islam sekarang. Mereka begitu mengagungkan akal, aspek lahiriyah dan mengabaikan qalbu dalam memutuskan kebenaran sebuah persoalan. Bagi seorang hamba yang berharap banyak memperoleh kebenaran, dia tidak akan pernah merasa puas dengan posisi pertama. Dia akan berjuang melangkah pada posisi berikutnya yaitu posisi ruku’, yaitu memposisikan akal sejajar dengan qalbu. Ada hubungan yang seimbang dalam pertimbangan tentang sebuah persoalan, melibatkan qalbu dan akal sejajar, saling membantu dan bekerja sama, saling menyediakan dan menyatukan data ‘bumi’ dan data ‘langit’ untuk diaplikasikan dalam persoalan kehidupannya.

Dan posisi yang terbaik dalam kehidupan manusia beriman adalah posisi sujud, yang disebutkan juga oleh Rasulullah sebagai posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya, yaitu ketika menempatkan qalbu di atas akalnya. Ketika akal atau aspek lahiriyah melihat sebuah persoalan, akal mencernanya dengan maksimal, baru qalbu yang telah hidup karena telah tersucikan dari dosa menjadi hakim, menjadi raja dalam memutuskan langkah berikutnya. Sedangkan pada tahap ini, rasio akan menjadi penasihat terdekat dari Qalbunya, dalam hal penerapan dan pengaplikasian petunjuk Allah ke alam mulk, atau alam fisik ini. Nabi bersabda, “Seorang hamba tidak akan pernah lebih dekat kepada Allah Swt. Kecuali ketika ia tengah bersujud.” (HR Muslim). Saad bin Jubair pernah berkata, “Tiada sesuatu pun di dunia ini yang kumintai pertolongan kecuali lewat sujud dalam shalat.” Sedang ‘Uqbah bin Muslim berkata, “Tiada sesuatu pada manusia yang lebih disukai Allah selain memperlama perjumpaan dengan-Nya. Dan tiada saat dalam kehidupan manusia yang teramat dekat dengan-Nya, kecuali ketika ia tersungkur bersujud kepada-Nya.” Abu Hurairah ra. pernah berkata, “Saat paling dekatnya seorang hamba kepada-Nya ialah ketika ia sedang bersujud, dan kemudian memperbanyak doa.” Semua kata-kata tadi mengisyaratkan, bahwa untuk senantiasa ada dalam posisi terdekat dengan Allah bukanlah semata-mata kita harus sujud setiap saat. Hal ini, dalam dimensi yang lebih dalam, juga berarti seorang hamba akan senantiasa dalam keadaan yang terdekat dengan Allah ketika Qalbunya telah hidup dan suci, yang mampu menempatkan dirinya untuk berada dalam posisi diatas rasionya.

Demikianlah uraian yang sangat singkat dalam memaparkan aspek batiniyah dalam shalat, hanya sebagai contoh bahwa Allah sang pemilik segala ilmu, menempatkan semua isyarat mengenai diri-Nya, maupun petunjuk bagi hamba-Nya, di dalam segala hal di alam ini. Kompleksitas diri-Nya yang Maha Tinggi membuatnya mampu membuat segala hal mengisyaratkan dan menyimpan ilmu bagi manusia, dalam dimensi lahiriyah maupun batiniyahnya. Tentu, masih banyak lagi hikmah lain dari ibadah tersebut yang Allah ajarkan kepada setiap hamba-Nya yang yang khusus, yang Dia sucikan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber Disini

--
Tetap update informasi di manapun dengan http://mippin.com/mobile-bambangsy dari browser ponsel anda !

Lanjut membaca “Arti Dari Kehidupan !”  »»

Kampung Kecil Itu Bernama Mall

Mall....! Sebutan orang-orang (terutama yang dekat dengan kehidupan kota) untuk sbuah kompleks gedung bertingkat yang isinya adalah segala macam ihwal alat dan bahan pemenuhan kebutuhan belanja. Ada yang melihatnya sebagai sebuah penambah kasta taraf hidup, ada pula yang melihatnya sebagai bintang yang disentuh saja harus setengah mati. Bahkan, ada yang melihatnya sebagai “kehidupan lain” yang tak pantas disentuh, sebuah kampung yang terdiri dari orang-orang yang memang sudah akrab dengannya saja.


Pertumbuhan mall di Indonesia dinilai pesat seiring dengan dinamika dunia bisnis yang semakin kesini dinilai semakin “liberal”.

Kini, setiap kota menjadikan Mall sebagai landmark yang menjadi magnet bagi para wisatawan, dan “kampung yang indah” bagi para insan domestik-lokal.

Mall punya karakternya sendiri-sendiri. Namun secara garis besar, sama lah apa yang ditawarkan mal satu kota dengan yang di kota lain, rata-rata. Kesamaan opini dan mindset publik tentang “seperti apakah rupa mall itu” membuat para pengelola pusat kesibukan ini menjadi tidak bisa berbuat banyak dalam merubah konsep dan konten yang ada di dalam gedungnya.

ADA MALL, YA ADA SHOPPING!

Benar sekali. Mall saat ini masih diidentikkan dengan dinamika gaya hidup dan pemenuhan kebutuhan akan rasa kepuasan berbelanja (shopping). Walaupun, belakangan muncul fenomena baru yang menaruh Mall sebagai salah satu situs pertemuan dan interaksi sosial yang memiliki nilai dan rasa tersendiri, hanya itu, tanpa harus belanja.

Kondisi fisik dan desain interior sebuah mall pastilah disesuaikan dengan karakter sosial masyarakat yang disasar sebagai pangsa pasar (market target). Bangunan bertingkat berapa, jumlah eskalator (tangga elektrik) idealnya berapa, adakah musola atau tidak, atau yang remeh temeh seperti warna lampu hias bagusnya apa, semuanya jadi perhitungan yang tertuang ke dalam ranah manajemen perancanaan oleh pihak-pihak penyelenggara.

Sementara itu, di mata masyarakat, adalah kebanggaan tersendiri mengakui sebuah “kepemilikan” mal dalam sebuah kota tempat tinggal atau sekedar singgah.

“Bagaimanapun, kesenjangan sosial-ekonomi itu susah dihilangkan. Jadi, dinikmati saja sebagai bagian dari perubahan sosial yang tidak statis.”

Mall memang masih dianggap sebagai “jurang pemisah” lagu lama, yaitu “Si Kaya dan Si Miskin”.

Di dalam sana, kotak-kotak cluster toko yang berisi hiasan ini-itu dan produk yang terdiferensiasi menjadi beberapa kebutuhan, kebutuhan tersusun dan terintegrasi menjadi sebuah kesatuan wadah menikmati barang, jasa, aliran uang masuk dan belanja keluar. Orang-orang datang ke Mall akan merasa “aman” jika membawa uang sedikit berlebih. Alasannya wajar, pertama, mall bukan pasar, yang harga barangnya murah apalagi bisa ditawar atas nama pertemanan atau kekerabatan. Kedua, kebesarannya di banyak hal menjadikan Mall sebagai sebuah daya tarik yang senantiasa “menggoda”. Satu koridor di satu lantai bisa saja berisi lebih dari 20 toko yang senantiasa terbuka lebar tatkala kita melewatinya, dan lagi, hampir semua barang yang terlintas di pikiran kita (untuk dibeli) saat ini sudah disediakan oleh Mall.

Mall bagaikan dua telapak tangan yang disatukan dan berisi kumpulan benda yang selalu kita butuhkan. Makanan pokok, pakaian, minuman krim, mainan canggih, alat musik tradisional, serta instrumen-instrumen gaya hidup lainnya. DAN SEMUA ITU DISODORKAN KE DEPAN WAJAH KITA.

Namun, jika diperhatikan dengan seksama dan jeli, sebenarnya kesenjangan sosial yang tercitra pada sebuah Mall tidak begitu terasa jika ditengok ke bagian dalam dindingnya.

Mall sepertinya paham betul bahwa masyarakat sebuah daerah, kota atau desa tidak bisa dipaksakan untuk menjadi semuanya adalah orang kaya.

Di dalam sebuah mall, terbentuk sebuah jaringan kerja yang dibawahi oleh sebuah koordinasi yang teratur sedemikian rupa agar menampung tenaga kerja dari masyarakat sekitar yang notabene memiliki stratifikasi sosial yang berbeda-beda.

Di sebuah toko “mewah” di dalam Mall, terdapat karyawan/karyawati yang berasal dari “kalangan biasa”. Itu salah satu point pentingnya. Deskripsinya begini.

Sebuah toko sepatu yang harga barang dagangannya rata-rata Rp 200.000 kebanyakan mempekerjakan karyawan dari kalangan pemuda 20-25 tahun dengan kualifikasi minimal lulusan SMA. Berarti, pada hakikatnya sama, yaitu sebagian orang-orang yang kerja di Mall adalah orang-orang dengan kebutuhan ekonomi masih terbatas pada kebutuhan vital alias primer.

Ada lagi, petugas kebersihan. Yang ini lebih logis lagi. Mungkin akan terdengar lucu jika sorang petugas kebersihan dipekerjakan di sebuah mall dengan kualifikasi penerimaannya minimal sarjana berketerampilan khusus.

Mau bagaimanapun juga, orang “kaya” bisa menikmati itu semua karena ada orang “sederhana” seperti mereka yang kerja di balik pintu-pitu karyawan teknis.

Bagaimanapun, saat ini Mall sudah menjadi bagian daari kehidupan manusia di seluruh dunia tak terkecuali di sini. Mall menjadi pengingat akan sejauh mana kita melangkah sebagai manusia berilmu dan beradab. Mall menjadi “sang penghibur” kala salah satu dari kita menyesali atau menangisi sebuah bentuk ketidakadilan. Mall selalu menjadi yang pertama dan termegah memeriahkan acara peringatan kita apapun yang kita rayakan sebagai sebuah kebersamaan masyarakat dan komunitas. Mall juga bisa mengajak kita untuk terus mengingat dan “melihat ke bawah”.

Jangan terlalu menyalahkan siapapun atas hal-hal buruk yang terpatri bersama keberadaan Mall.

Ada yang menjadikan berhala, ada pula yang memandangnya sebagai sumber pahala. Semuanya akan menjadi beban pikiran yang senantiasa mendewasakan kita.

Sekiranya sebuah perjalanan mengamati proses pergolakan sosial bisa kita mulai dari memperhatikan kota tempat tinggal kita.

Untuk kali ini, sebuah kampung kecil menjadi sasaran pembahasan kita tentang MEMASYARAKATKAN MASYARAKAT. Kampung kecil itu bernama “Mall”.

Fakta-fakta tentang Mall :
  1. Mal terbesar di dunia berdiri di atas area seluas 7,1 juta persegi. South China Mall, terdaat di kota Dongguan, Cina, dibangun setelah tahun 2004. Ini sekaligus membuatnya menjadi Mall tersepi didunia.
  2. Ada yang memanfaatkan Mall sebagai lahan togel. Ialah Ichai alias Achai yang dalam sekali “puter” di satu bisa mendapatkan Rp 150 juta. Kebiasaannya berpindah-pindah mall hingga ke Singapura membuatnya jadi miliarder hanya dalam waktu 6 bulan.
  3. Sebagian besar pengunjung mall bingung lokasi tempat belanja barang tertentu saat pertama kali masuk sebuah Mall. Inilah asal muasala kini di semua Mall dipasangi aplikasi penunjuk (Map) tentang keseluruhan denah dan isi Mall.
  4. Pria lebih tertarik mengamati orang-orang saat berada di Mall sementara Wanita lebih tertarik untuk berbelanja. Pria lebih interested pada barang-barang non-ritel seperti makanan cepat saji yang tidak mengharuskan mereka untuk “mengepas”.
  5. Di Mall, penilaian tujuan terhadap toko buku lebih kepada tempat untuk membaca dan membuka-buka informasi sambil menunggu sesuatu atau seseorang.
  6. Rata-rata frekuensi kunjungan orang ke mal adalah 6,5 hari sekali dengan variasi wanita tiap 6,1 hari sekali dan pria 7,1 hari sekali. Ini mengindikasikan wanita lebih doyan ke mal dan akhir pekan menjadi waktu yang pas untuk jalan-jalan. Temuan kedua mengenai durasi di dalam mal. Hasil riset menunjukkan rata-rata tiap orang menghabiskan 3,5 jam sekali kunjungan. Angka ini kalau dikonversikan ke satu tahun menghasilkan lama kunjungan 197 jam. Artinya, selama setahun orang mengisi hidupnya selama 197 jam di mal.
  7. Jumlah uang yang diraup Mall di Jakarta dari saku seorang pengunjung adalah Rp 10.921.000,- pertahun. Dalam sekali kunjungan orang rata-rata menghabiskan uang sebesar Rp 194.500,-.


--
Tetap update informasi di manapun dengan http://mippin.com/mobile-bambangsy dari browser ponsel anda !

Lanjut membaca “Kampung Kecil Itu Bernama Mall”  »»
 

My Twitter Updates

Twitter Updates


    follow me on Twitter

    Site Info

          Add to Technorati Favorites   blog-indonesia.com

    Jadwal Shalat


    G
    U
    E
    S
    T

    B
    O
    O
    K

    Hubungi Saya Disini !